Sabtu 17 agustus 2019
Sejarah desa Panongan
Pada tahun 1769 di dataran rendah sungai Cimanuk ada suatu pendukuhan/ kampung yang namanya kampung siwalan, karena disebut kampung siwalan di lokasi tersebut tidak sedikit tumbuh pohon siwalan, di kampung itu dihuni oleh satu family namanya aki dan Nini oncolong kopek beserta pengikutnya aki dan Nini terbin.Keluarga itu sehari-harinya sebagai petani, waktu tersebut untuk sumber air minum, mandi dan mengguyur mereka menciptakan sumur dengan menggali, berkat kesaktiannya keluarlah air yang begitu tidak sedikit dan sumur itu diberi nama SUMUR SAGARA hingga sekarang dirasakan keramat.
Lama-kelamaan warga di kampung siwalan meningkat banyak, pada tahun 1825 datanglah duta dari kesultanan cirebon guna memimpin warga tersebut, mereka ialah ki buyut dokom, ki buyut ruda, karena wilayah ini masih tergolong wilayah cirebon, guna tugas kedua orang tersebut ialah ki buyut ruda menjadi kuwu dan ki buyut dokom menjadi lebe.
Berikut kepemimpinan kedua orang itu ngaheyeuk Dayeuh ngolah kampung dengan Arif dan budiman keadaan subur GEMAH REPEH RAPIH.
Sepuluh tahun lantas kepemimpinan ki buyut dotcom telah selesai dan kibo youtube com mengundurkan diri kemudian diganti oleh putra wilayah dusun siwalan yakni ki buyut sangi, demikian pula dalam kepemimpinan ki Kuwu bangi dalam suasana Gemah Ripah Repeh Rapih , tetapi kira-kira pada tahun 1839 masehi, ada suatu tragedi perang katanya pada waktu tersebut disebut perang badab bantarjati, pada waktu tersebut selaku senopati perang/pemanggul juritnya Ki Bagus Ragin.perang dengan tentara belanda yang datang dari arah sumedang yang pada waktu tersebut sebagai kepala wilayah bupati sumedang ialah pangeran Kornel.Yang keceluk Arif dan bijaksana, walaupun dirinya orang belanda paling menyayangi rakyat kecil.
Namun pada perang tersebut semua penduduk kampung jiwa yang tidak ikut campur melulu mengintai dan mengintip saja, kata bahasa sunda Noong , menyaksikan kejadian sebut semua sesepuh desa/dusun siwalan menyelenggarakan rempungan/musyawarah guna mengubah nama kampung siwalan menjadi dusun/desa panoongan /Panongan, karena pada kejadian perang itu di atas melulu mengintip/Noong dan sampai sekarang namanya desa panongan.
Kira-kira pada tahun 1857 katanya kedatangan bola seorang pejuang yang namanya jaka kusumaasal dari jawa unsur timur ya ialah salah seorang pejuang agama islam dan perjuangan negara yang ikut perang dengan pangeran diponegoro,iya datang ke desa panongan dengan teknik menyamar menggunakan pakaian karung kadut karena iya sedang didapatkan musuh, kemudian datang ke desa panongan dirinya merasa aman kemudian iya menginap di kuwu Bangi.
hari demi hari minggu demi minggu mbah buyut jaka kusuma di desa panongan, menegakkan perguruan di bidang baca tulis Al-Qur'an atau dalam urusan beladiri guna menyebarluaskan agama islam bareng sesepuh dan warga desa Panongan.
Lalu oleh semua penduduk mbak buyut cakep kusuma diberi julukan buyut kadutdan perguruan tersebut lokasinya di pinggir desa dengan adanya perguruan itu yang dipimpin beliau.Kisah panongan lumayan meningkat dalam ilmu keagamaan atau urusan beladiri jadi dengan adanya beliau membawa berkah guna masyarakat desa panongan dan sekitarnya, dan hingga akhir hayatnya di desa panongan dan dimakamkan di blok pasir, demikian pula kuwu Bangi dan istrinya dimakamkan bersebelahan dengan Buyut jaka Kusuma kan sampai kini masih terdapat makamnya dan dirasakan keramat oleh warga setempat dan pun sekitarnya pun oleh ulama tingkat kabupaten majalengka sekitarnya dan demikian pula Ki Buyut Ruda dan ki Buyut Dokom hingga akhir hayatnya Ki Desa Panongan dan dimakamkan di sebelah timur cibeet ki Buyut Dokom dan sebelah barat cibeet ki Buyut Ruda.
Demikian sekilas asal usul desa panongan kecamatan Jatitujuh kabupaten majalengka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar